PERADABAN DI TANAH AIR

Tanah Air kita masih menderita, diganggu oleh banyak ketidakberesan yang meluas hamper di semua sektorkehidupan. Akal sehat menjadi puyeng , sebab meski sudah sekian tahun “ reformasi “ digulirkan tetapi cabinet demi cabinet tetap belum mampu bekerja dengan hasil mulia.
Janji-janji para petinggi mengenai banyak hal tetap tinggal janji. Sebagian besar palaksanaan kekuasaan dan pengurusan Negara tidak berjalan menurut kaidah-kaidah pantas yang membela kepentingan masyarakat luas.
Jadi, Tanah Air mau dibawa kemana? Lepas dari kekecualian  ada beberapa tokoh yang memberi harapan, Tanah Air kita masih dikendalikan oleh banyak petinggi yang tidak pantas. Mereka tidak mempunyai niat baik untuk kepentingan bangsa dan Negara secara menyeluruh. Mereka hanya memanfaatkan kekuasaan untuk memperluas kepentingan sendiri dan kelompoknya.
Kepentingan tersebut beraneka ragam, yang paling mengganggu adalah kepentingan primordialisme yang bersekutu dengan kepentingan uang.
Dampak buruknya banyak terasa disemua sector kehidupan, dari Sabang sampai Merauke. Salah satunya, memberi kesempatan kepada golongan keras-radikal untuk melancarkan fanatisme mereka. Negara dikacau! Kekacauan yang justru dibutuhkan oleh para elite bermasalah. Mereka berkepentingan terus mengacau, ditopang sisa-sisa kekuatan tercela masa lalu.
Maka Reformasi kabur! Dengan kekaburan reformasi itu  mereka bisa merawat kekuasaan dan apa saja yang pernah dan masih dimiliki. Nah . mereka terpulihkan oleh kamalasan fakir atau apatisme kita sendiri, lalu menjadi seperti orang tidak bersalah.
Kekacauan itu mengganggu masyarakat , yang paling diganggu : wong cilik. Semisal petani dan nelayan. Gangguan itu sejatinya bukan hal baru, sudah warisan berabad-abad. Rata-rata rakyat jelata di Nusaanntara menderita sejak zaman Raja-raja, zaman manipulasi penguasa semua tingkat di era republic, siapapun presidennya.
Mereka tarpaksa hidup miskin dalam penindasan para tuan-tanah, lintah-darat, kapitalis-birokrat, para kapitalis besar domestic dan asing. Mereka harus sabar direcoki oleh pembodohan topeng “Budaya Negara kesatuan Republik Indonesia  “ yang berujung pada pelaksanaan model mutakhir tata Negara, yang di dalam praktek hanya mementingkan kaum feudal, makelar, saudagar dll.
Lebih celaka, mereka acapkali masih menderita  akibat bencana alam seperti banjir, gempa, tsunami, gunung meletus dan sebagainya.
Menyerbu Kota-Kota
Sebagai iustrasi pemerintah belum membela wong cilik,  tampak dari data kasar berikut: 70% kaum tani hanya memiliki lahan 13% sedangkan 30% bukan petani malah manguasai 87%.
Tnpa tanah garapan dan alat produksi milik sendiri , berjuta tenaga produktif  tani dan nelayan menyerbu kota  mencari pekerjaan , menambah jumlah pangangguran dengan segala dampak sosialnya yang memalukan Negara.
Ilustrasi kedua soal pro yakyat adalah  ketidakseriusan pemerintah dalam  mengakhiri jurang beda kaya miskin di negeri ini, segelintir orang  punya uang milyaran  manakala pada saat yang sama  berjuta-juta orang  tak punya uang banyak utang.
Jika pemerintah serius berniat mengurangi kesenjangan, sejatinya banyak cara sederhana dan praktis yang bisa dilakukan.  Misalnya pemberlakuan pajak yang progresif dan radikal, jika perlu sampai 70-80%  pajak penghasilan bagi yang berpenghasilan sangat besar.
Itulah pekerjaan raksasa yang seharusnya segera dilakukan dan bukan hanya menjadi wacana elite bangsa. Di banyak Negara “ maju-modern-kaya”  sisem politik “kapok menjadi kaya” adalah asas yang sudah diberlakukan  lama dengan bangga  sebagai bangsa yang bertanggung jawab. Kita?
Penderitaan rakyat menjadi semakin sulit karna pemerintahan demi pemerintahan pasca reformasi hsrus mewarisi system pemerintahan terdahulu. Itu, mau tak mau, meniscayakan keterjeratan dalam globalisasi.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s